Apa Salahnya dengan Rasa Bangga ? SANGAT SALAH !

“Apa Salahnya dengan Rasa Bangga ? SANGAT SALAH !”

Awalnya, saya merasa tidak perlu untuk memperpanjang pandangan terkait dengan “Saya Bangga jadi Kader HMI”. Sebagai sebuah slogan, tentunya hal tersebut akan memunculkan ragam interpretasi terhadap kalimat yang berseliweran di jagat maya dalam menyambut peringatan 74 Tahun lahirnya HMI. Setiap pemaknaan yang dilakukan tidaklah bijak untuk dihakimi akan benar dan salahnya, karena itu adalah hak setiap individu berdasar pada pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya.

Ketertarikan untuk menulis akan hal ini muncul ketika membaca sebuah opini yang dilontarkan oleh Deo Agung Pratama (Ahong) dengan judul “Apa Salahnya dengan Rasa Bangga”.[1] Ahong menuliskan respon terkait dengan opini Said Muniruddin yang saya bagikan sebelumnya dengan judul “Saya Bangga jadi Kader HMI”.[2] Judul yang saya buat di awal tulisan, adalah hal yang disengaja untuk lebih “menggelitik” emosi mereka yang (mungkin) menyempatkan waktunya untuk membaca narasi singkat ini. Harapannya, redaksi judul yang dipilih tidak memunculkan kesimpulan dan tidak melahirkan praduga keliru sebelum membacanya secara utuh.

Ahong menyatakan tidak sependapat dengan opini Said Muniruddin, dengan menyebutkan bahwa tidak ada yang salah dari rasa bangga seorang kader akan himpunannya. Hal tersebut berdasar pada tingkat pemahaman setiap individu kader yang berbeda dan anggapan bahwa HMI telah banyak merubah cara pandang seseorang. Sehingga kebanggaan itu adalah suatu dampak yang wajar untuk diekspresikan.

Menanggapi hal tersebut, saya beranggapan bahwa Ahong tidak membaca opini Said secara komprehensif. Jika dimaknai dengan utuh, Said secara tersirat tidaklah menyatakan bahwa “bangga” itu sebagai sesuatu yang salah. Dengan menggunakan skala power vs forces-nya Hawkins, Said menjelaskan tentang perjalanan kesadaran seorang manusia. Menurutnya, bangga adalah tingkat kesadaran yang telah melewati beberapa kesadaran sebelumnya (shame, guilt, apathy, grief, fear, desire, anger). Semua kesadaran ini bersumber dari sebuah kekuatan negatif yang disebut force.

Jika seseorang mampu melewati 7 level kesadaran terbawah yang bernilai frustatif tersebut, barulah ia masuk pada bentuk kesadaran yang lebih tinggi, yaitu: “kebanggaan diri” (pride). Perasaan “bangga” inipun belum ideal. Meskipun sudah membuat seseorang merasa baikan. Sebab, pada tahap ini seseorang tidak lagi merasa malu, merasa bersalah, apatis, sedih, takut ataupun frustasi”

Titik tekan Said terletak pada rasa bangga belumlah ideal jika dijadikan sebagai tingkat kesadaran akhir yang dimiliki oleh kader HMI. Rasa bangga masih dapat tercampur aduk dengan unsur sombong, angkuh, dan arogan. Menurutnya, kader HMI harus meng-upgrade tingkat kesadarannya  ke level courage. Yaitu, dari sekedar rasa bangga terhadap sesuatu yang ia punyai kepada bentuk-bentuk keberanian untuk melakukan sesuatu.

“Pada level courage, mungkin kita masih punya rasa marah, apatis, bahkan sombong dengan sejarah hebat masa lalu (sukses melawan PKI, banyaknya alumni, dsb). Tapi itu tidak membuat kita larut. Hal itu justru memberi kekuatan untuk berbuat lebih. Courage memberi kita daya untuk bergerak, memberdayakan dan mengembangkan diri. Pada tingkatan courage, seorang kader atau alumni sudah berani mengambil tanggungjawab untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada. Bukan terus-terusan berharap, menunggu, mengekor, dan bergantung pada orang lain.”

Melalui courage atau kehidupan yang ber-power, akan tumbuh willingness (kemauan dan kesadaran untuk berbuat lebih baik dengan komitmen-komitmen yang lebih tinggi, dan dengan cara-cara terorganisir). Dan tumbuh pula sikap acceptance (penerimaan terhadap diri sendiri bahwa kita punya kekuatan besar untuk hidup sukses dan bahagia, hidup sudah mulai menemukan tujuan). Setelah itu barulah berkembang kesadaran “intelek” (reason). Tumbuh akal yang semakin sehat, mampu berfikir lebih rasional dan jernih (menjadi insan akademis).

Saya sependapat dengan narasi kritis Said tersebut. Apa salahnya dengan rasa bangga ?. Tidak ada yang salah sebagai sebuah ekspresi atau bagian dari sebuah proses kesadaran seorang anggota. Namun menjadi sesuatu yang sangat salah, ketika hanya sebatas rasa bangga belaka. Hingga menumbuhkan sikap fanatik tanpa substansi dan tidak teraktualisasikan dalam perjuangan.

Padanan kata “kader HMI” tidak hanya saya maknai sebatas anggota yang belajar dan atau pernah belajar di HMI. Lebih dari itu, kader HMI menurut saya adalah anggota yang menjalankan nilai-nilai HMI dan memperjuangkan tujuan dalam setiap gerak langkahnya di bidang apapun. Wujud profil kader yang demikian tentunya tidak dapat hanya dinilai dari “kulitnya” seorang anggota HMI saja. Nilai perjuangan HMI telah hidup di dalam dirinya dan hal tersebut terafirmasi dalam geriknya. Bukan hanya pada hal-hal yang bersifat formalitas belaka.

Slogan “Saya Bangga jadi Kader HMI”. Menurut saya menyiratkan makna bahwa telah ada nilai dan langkah-langkah menuju tujuan yang dijalankan oleh anggota HMI. Sehingga hal tersebut menjadi sesuatu yang patut untuk dibanggakan. Berdasar pada pemaknaan demikian, saya pernah menyebutkan bahwa “HMI tidak Bangga Memiliki Anggota Seperti Saya”. Kalimat tersebut adalah judgment subjektif terhadap diri saya sendiri yang belum memenuhi indikator sebagai seorang kader HMI.


[1] Selengkapnya akses di, http://ahong12.blogspot.com/2021/02/apa-salah-nya-dengan-rasa-bangga.html?m=1  

[2] Selengkapnya akses di, https://saidmuniruddin.com/2021/02/06/saya-bangga-jadi-kader-hmi/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s